Sabtu, 06 Juni 2015

Tangan Kiri Tuhan (Cerber #2)

Gadis Berambut Lurus Hitam Panjang
Ia bersekolah di sekolah menengah atas swasta di bilangan Kebayoran. Di sana kebanyakan murid beretnis Tionghoa atau wajah Indonesia yang bersih dan tampak sehat. Dari bangunan sekolah yang mentereng, ketahuanlah kalangan murid-murid yang sekolah di sini. Mereka berasal dari keluarga kelas menengah atas.
Lelaki muda seusianya dulu gemar memperhatikan gadis berambut lurus hitam panjang. Masa itu, gadis-gadis berprototipe seperti itu menggambarkan kesucian dan kepolosan. Mereka biasanya tak banyak tingkah, rajin belajar, dan pintar. Kalau tidak punya sesuatu pun yang disebutkan tadi, sedikitnya mereka ada satu hal yang dibanggakan, yaitu rambut lurus hitam panjangnya itu. Tetapi reputasi itu akan terasa kurang asyik atau malah membuat makin penasaran bila mereka punya banyak peraturan “tidak”. Artinya, mereka akan lebih sulit dipacari.  
Jinak-jinak merpati istilah yang populer saat itu. Senyum manis di pipi merah muda gadis berambut lurus hitam panjang seolah memberi lampu hijau untuk jalan terus, tetapi belum tentu. Itu hanyalah cara sopan si gadis yang tak ingin membuat laki-laki muda patah hatinya. Pada umumnya laki-laki muda ingin sedikit mendapat kesulitan menggaet tambatan hati agar memunculkan sifat kepahlawanan dalam diri.
Begitulah para pemuda ini lebih menyukai jenis di atas daripada perempuan muda yang terlalu berlebihan menghias diri, memoles bibir dengan warna perona merah yang jelas, mewarnai kuku-kuku panjang mereka. namun, meski mereka mudah diajak atau diperintah apa saja, tetapi mereka pun punya posisi tawar yang tak kalah hebat. Begitulah yang ia dengar dari rekan-rekan sekolahnya.  
Laki-laki muda senang mengejar tambatan hati seperti mengejar mangsa. Makin sulit dikejar si gadis, makin menimbulkan rasa penasaran. Tetapi setelah mangsa terkejar, rasa suka bisa berubah tidak suka. Masa yang membingungkan dan menghancurkan banyak hati perempuan muda. Kesalahpahaman seperti itu sangat menjengkelkan kedua belah pihak dan merepotkan guru atau orangtua atau orang dewasa lain, bila itu kemudian berkembang dan terekspos ke publik.     
Teman-teman mudanya mencari pelbagai cara menembak gadis pilihan mereka. Entah kapan mereka mendesak Leo membuatkan puisi-puisi yang menyiratkan pemujaan kepada si calon tertembak. Dan ternyata puisi-puisi Leo cukup ampuh merontokkan hati sang pujaan. Mereka tak habis pikir kenapa gadis-gadis mudah terbuai hatinya dengan kata-kata rayuan setinggi langit. Tetapi, gadis berambut hitam panjang tak begitu mudah hatinya ditumbangkan.
Ia sendiri belum tergugah betul melihat makhluk-makhluk manis di sekolahnya. Atau kalau ia mau jujur, sebenarnya ia malu dan mempertanyakan, apakah dirinya cukup menarik di mata lawan jenis. Ia tidak bisa memahami apa sebenarnya yang benar-benar diinginkan oleh para perempuan muda itu. Apa yang membuka hati mereka takluk? Tetapi apa menyenangkan berteman dengan seorang lawan jenis? Bagaimana mereka berbicara dengan menggerak-gerakkan bibir mereka sambil tertawa kenes, dengan suara kecil dan nyaring, dan nada yang manja. Kecuali ibunya, dia tak punya pengalaman bagaimana tingkah anak perempuan berpikir dan merasa.    
Pada satu kali seperti biasa ia memasang dirinya di kursi-kursi perpustakaan sekolahnya. Dia merasa cukup nyaman di sana. Dengan alasan banyak buku yang belum dibacanya, dia akan bertahan menghabiskan jam istirahatnya. Ia membenamkan kepalanya di antara dua buku, merasa lega bahwa dunia ini mempunyai gagasan menyimpan sejumlah buku dalam jumlah besar, kemudian meminjamkan kepada pihak lain, atau membiarkan pihak lain membaca di sana. Dari mana kata perpustakaan itu berasal. Apa yang terjadi kalau di dunia ini tidak ada perpustakaan. Betapa sepi, betapa kering.
Dan ketika ia mengangkat matanya, ia melihat satu pemandangan manis yang belum pernah dia lihat sebelumnya di sekolah ini. Gadis berambut lurus hitam panjang. Ia seperti baru saja mendaratkan bokongnya di kursi perpustakaan yang sunyi kala istirahat siang. Tubuhnya tipis dan tampak ringkih. Seragam putihnya seperti kelebaran menutupi lengannya yang kurus panjang. Tetapi ketika tangan kirinya mengangkat dua buku tebal dengan mudah, ia merasakan kekuatan gadis itu. Leo takjub melihatnya.
Matanya mengawasi gadis itu diam-diam dan tak kentara. Tak seorang pun mengatakan sesuatu tetapi dia tertarik pada makhluk di sebrang sana. Rambut hitamnya jatuh hampir di atas pinggang, terurai bebas. Ia ingin mendekat dan mengelus rambut itu. Ketika gadis itu mengangkat dirinya, berdiri, ia seperti menjulang. Tubuhnya yang kurus membuatnya lebih tinggi dari kenyataannya. Ketika wajah gadis itu menoleh sedikit ke kiri, Leo bisa memandang air mukanya yang lembut dan kulit halusnya. Matanya kecil, pipinya tirus, bibirnya tipis hampir pucat.
Seketika visi itu menyentuh jiwanya. Matanya segar dan melekat ke panorama tersebutitu. Ia agak menyesal karena ia berpikir telah terlambat memperhatikan kehadiran gadis itu selama ini. Siapa dia? Belum pernah sekali pun aku melihatnya. Sudah berapa lama dia sekolah di sana, kata batinnya bertubi-tubi.
“Terima kasih, Pak Paulus,” ia mendengar suara gadis itu ketika Pak Paulus, guru piket di perpustakaan, selesai mencatat dan menyerahkan buku yang dipinjamnya.
Kemudian gadis itu berlalu, membawa rambut hitam panjangnya pergi. Dia berjalan seperti melayang karena tubuhnya yang ringan. Ia membayangkan seandainya ada angin kencang bertiup saat itu, sepastinya tubuh itu kena terjang. Apa dia anak baru, pindahan dari kota lain?
Setelah pintu menutupi pemandangannya dari gadis itu, dengan segera ia mengangkat dirinya dengan dua novel yang akan dipinjamnya ke rumah. Pelican Brief oleh John Grisham dan Badai Pasti Berlalu oleh Marga T.
“Siapa tadi, Pak?” tanya Leo.
“Siapa? Oh, tadi itu? Viona.
“Anak baru? Kok baru kelihatan?”
Pak Paulus menatap mata Leo, heran, karena selama ini Leo jarang membuka mulutnya untuk berbicara di perpustakaan, “Memang kalau minta izin terapi, dia cukup lama absen dari sekolah.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 2 IPA 2.”
“Memangnya dia sakit, Pak?”
“Iya. Kamu mau tanya sakitnya apa? Tanya sendiri sana sama orangnya. Berani?” kata Pak Paulus dengan nada menggoda. Ada sinar nakal tumbuh di matanya dan ujung-ujung bibir yang sedikit terangkat.
Leo tidak menanggapi petugas perpustakaan yang sekaligus guru sejarah di sekolahnya itu. Konon Pak Paulus memang senang menggoda muridnya atau menyindir halus murid-muridnya yang malas membaca sejarah.
“Kenalan sana sama Viona, bikin puisi untuknya. Jangan bikin puisi untuk pesanan saja!” perintah Pak Paulus lagi, masih dengan nada menggoda.
Leo balas melirik, menyeringai tak penting lebih karena ia tak punya amunisi otomatis untuk membalas gurunya dengan kata-kata. Atau sebenarnya ia selalu diajar untuk menghormati orang yang lebih tua. Segera ia menarik buku-buku yang dipinjamnya, keluar dari pintu perpustakaan. Sejak itu matanya selalu mencari wajah dari makhluk manis itu.     
Namanya Viona. Kedengaran seperti suara musik. Anak perempuan berambut lurus panjang, berwajah tirus dan lembut itu, tinggal di Kelapa Gading. Jarak yang termasuk jauh dari sekolahnya. Kenapa dia sekolah di sana? Tiap pagi ia diantar oleh sopir sampai di sisi lapangan basket sekolah. Kemudian ia menggendong ransel besar di pundaknya, sehingga kelihatan tak seimbang dengan tubuh tipisnya, namun beruntung karena ia jangkung. Apa saja yang ada di tasnya yang besar itu, ia sering berpikir. Tasnya meski besar tampaknya tidak seberat anak perempuan itu. Sekarang ia menyadari bahwa gadis itu cukup kuat juga meski badannya tidak mengatakan demikian.
Belakangan ia tahu, gadis berambut hitam lurus panjang itu membawa bekal makan siang dan peralatan makannya. Itu sebabnya tasnya gemuk. Pukul 10 ia minum jus berwarna dari satu botol yang cukup besar. Siang hari ia membuka bekal di kantin, duduk bersama teman-teman perempuan atau berdua, tak pernah sendirian. Matanya selalu tertawa, sementara mulutnya mengunyah pelan, sambil sesekali berbicara. 
Itulah masa di mana seorang gadis memenuhi pikirannya. Kadang-kadang ia menebak-nebak sendiri apa warna kaus kaki yang dipakainya hari atau jenis sepatu olahraga yang sudah tiga kali ia melihat yang berbeda. Semuanya tipis dan berwarna ringan. Dan ia bisa menebak ekspresi tawanya yang lebar. Sederetan gigi putihnya memperlihatkan kegembiraan isi tenggorokan. Bola matanya hitam tak tercela. Alisnya tipis dan lembut.
Kadang-kadang Leo tersipu sendiri karena baru kali ini dia mengamati orang dengan lebih rinci. Tubuhnya akan gembira memikirkan satu hal baru dari gadis itu, yang baru diketahuinya, lalu dia simpan baik-baik di kepalanya. Mungkin ternyata ia masih punya setitik tahi lalat di bawah dagunya atau ekspresi lucu yang muncul sementara dia mengernyitkan dahi dan memonyongkan mulutnya.
Pengetahuan tentang anak perempuan berambut hitam panjang itu sudah cukup. Dia tak mau siapa pun akan mendahuluinya menyapa gadis itu. Dia ingin yang pertama bertanya kabarnya hari ini. Kadang-kadang ia marah tak beralasan kalau ada kawan sekolahnya, entah siapa, menyapa Viona. Kadang-kadang ia merasa lebih berhak duduk di sana, hanya berduaan dengan Viona dan mendengarkan dia berbicara, atau sekedar menungguinya makan. Tetapi pada kenyataannya, dia tak pernah bersinggungan dengannya, sedetik pun. Dia tak yakin Viona tahu tentang kehadirannya di sekolah itu. Apalagi mengetahui namanya, misalnya.        
Namun bagaimana pun semesta adalah pendengar yang baik. Dinding-dinding akan mengetahui apa yang ada di hatimu selama ini, mengabarkannya kepada udara, meneruskannya kepada angin yang bersiul dalam telinga seseorang.
Lalu satu kali di perpustakaan, mereka tiba-tiba sudah berhadapan di lorong rak buku yang sempit. Jantung Leo seperti hendak tumpah. Sumpah, dia belum memperhitungkan akan terjebak dalam keadaan seperti ini. Bagaimana ekspresi wajahku saat ini, batinnya cepat dengan khawatir. Ia tak mau tampak bodoh di depan gadis itu. Ia segera menenangkan dirinya, bertindak seolah-olah kehadiran gadis itu tak penting di sana. Kenyataannya sekarang, lorong itu sempit, takkan muat dilalui dua manusia sekaligus. Salah satu harus mengalah, mengundurkan diri. Mereka terdiam, saling pandang untuk dua detik, belum memutuskan apa-apa.   
“Mau cari buku apa?” tanya Leo cepat. Ia bisa mendengar sendiri suaranya yang kaku dan tak ramah dan bergegas. Seketika ia menyesali caranya bertanya tetapi dia tak ada cara yang lain untuk memperbaikinya.
“Kamu?”
“Kamu duluan aja.” 
Anak perempuan itu tertawa kecil. Suara tawanya nyaring seperti suara peri dalam film kartun pangeran tampan yang bertemu putri cantik. Ketika itulah Leo menyadari betapa kerempeng anak itu. Waktu tertawa kecil saja, urat dan tulang di sekitar lehernya tampak menonjol dan seperti ditarik-tarik. Dan ketika berbicara gambar tadi lebih jelas. Matanya tersenyum tetapi Leo seolah bisa menangkap sinar yang lain, yang sendu. Seketika hatinya merasa cemas. Ia merasa akan kehilangan gadis itu dalam waktu cepat. Tapi apa?
“Buku puisi Sapardi Djoko Damono? Ada di rak yang sebelah sana,” kata Leo sambil menunjuk ke lorong berikutnya.   
Gadis itu menepuk jidatnya girang, berkata bahwa ia ingat sekarang, barisan buku-buku puisi seharusnya di sana. Ngapain ke sini, katanya sambil mundur, berbalik dan mengundurkan dirinya. Leo masih memperhatikan tubuh itu diam-diam, lega karena wajah itu tak lagi menyesaki dadanya, meneruskan mencari buku, sementara tubuhnya sudah bergetar. Rasa sukacita tumbuh di setiap pori kulitnya.
“Saya Viona,” ucap gadis itu riang, lalu terdiam karena dia menunggu lawan bicaranya tahu diri setelah mendengar namanya.
“Saya Wandi,” jawabnya pelan dengan suara rendah.  
“Nah, terimakasih, Wandi!” 
Sejak itu mereka agak sering bertemu di perpustakaan, meski  hanya sekilas menampakkan diri saja, tidak mengobrol. Pernah ia sudah duduk di meja tengah perpustakaan, kemudian gadis itu duduk di sisinya, bertanya buku yang ingin dia baca. Bagi Leo itu luar biasa. Seorang gadis dengan ramah bertanya sesuatu kepadanya. Gadis yang mungkin dia incar selama ini. Keramahan gadis itu memberinya semacam rasa percaya diri bahwa dia takkan diabaikan atau diacuhkan bila menyapa lebih dulu. Dan mata gadis itu benar-benar selalu tersenyum.
Pada satu pagi Leo bersemangat sekali karena berjanji akan meminjamkan satu buku puisi Chairil Anwar, kebanggaannya. Seharusnya di perpustakaan ada tetapi beberapa murid mungkin sedang meminjam buku itu. Di kelas ia sudah tak sabar, menunggu bel istirahat berbunyi. Lalu dia berjalan ke perpustakaan seperti tidak terjadi apa-apa di dalam dirinya. Ia hampir tak bisa membayangkan bagaimana sikapnya nanti. Bagaimana makhluk itu akan berterimakasih kepadanya. Dengan bola mata yang bersinar.
Ia menunggu di meja tengah perpustakaan, pura-pura membaca buku. Tiap kali ia melirik ke pintu tiap kali pintu itu didorong seseorang dari luar. Tapi gadis berambut hitam panjang itu tak muncul hari itu di perpustakaan. Dia menunggu, melewatkan makan siangnya, dan berlalu, tanpa melihatnya. Ia gelisah sekali.
Keesokan harinya ia masih membawa buku puisi itu, khawatir kemarin Viona sakit dan hari ini dia akan muncul. Tetapi dia belum muncul juga. Kemudian hampir tiap kali dia duduk di kursi perpustakaan, tempat mereka biasa duduk, mendengar bunyi pintu terbuka, jantungnya seperti melonjak, berharap itu adalah si gadis. Tetapi tidak. Tak pernah lagi.
Seperti dirinya, perpustakaan hanya bisa diam menunggu, tetapi dia dengan gelisah yang tak bisa dia ungkapkan. Gadis itu hilang ditelan Jakarta. Ini harus dilaporkan. Apakah sekolah tidak merasakan bahwa satu muridnya tidak sekolah untuk waktu yang lama?
Sampai akhirnya ia tak tahan lagi. Viona sudah hilang selama tiga minggu. Dia harus diselamatkan. Ia bertanya kepada Pak Paulus dengan gaya seolah tak peduli. Tapi sepertinya Pak Paulus menangkap gelisah yang diruapkan dari pori-pori kulit anak muda itu. Guru sejarah itu memandang Leo sebentar, berkata singkat bahwa gadis itu sedang berobat ke luar negeri. Saat itulah ia mendengar bahwa Viona terkena penyakit yang disebut leukemia atau kanker darah.
Penyakit apa itu? Apakah dia cukup hebatnya sehingga menghalangi kehadiran Viona di sekolah, sampai tiga minggu?
Leo sangat menyesal karena tidak pernah mengucapkan apa pun tentang dirinya selain buku-buku yang ia baca. Ia belum mengatakan bahwa ia sudah menulis beberapa baris puisi pendek tiap kali untuk gadis itu. Mungkin tidak terlalu bagus tetapi tiap katanya punya makna. Dan puisi itu bukan untuk dibaca orang lain. Hanya dirinya yang mengerti. Mungkin Viona pun tidak.
Karena ketidakhadiran gadis itu, dia berlatih karate lebih lama, sekedar membuang kegelisahan dan emosinya yang agak berlebihan akhir-akhir ini. Ia tak pernah berjumpa lagi dengan Viona, sejak itu, sampai ia lulus dan meninggalkan sekolahnya. Ia tak tahu harus bertanya kepada siapa. Pak Paulus, sumber informasinya selama ini, hanya tahu soal terapi dan terapi dan di luar negeri.    
Lalu tahun 1998 itu, saat krisis moneter merebak dan negeri ini terguncang dengan tumbangnya penguasa yang sudah bertahan 32 tahun. Saat itu ada masa paling mengerikan bagi sebagian besar kalangan etnis Tionghoa, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Ia sedang ada di Kuala Lumpur saat itu, ingin kembali ke Tanah Air tetapi keadaan tidak memungkinkan. Orangtuanya berulang kali menelepon, menasihati dengan keras untuk tidak berusaha mencari jalan pulang, dengan cara apa pun. Tanah Air sedang bersimbah darah dan air mata.
“Terlalu rawan, Nak. Kita tak tahu apa yang akan terjadi. Kami aman di Bangka. Tinggallah di rumah, lihat televisi untuk mengetahui berita baru,” kata ayahnya waktu itu.   
Beberapa waktu setelah itu ia sedang kembali ke Tanah Air, berjumpa seorang kawan sekolah di bandara, yang seperti sungai mengalir di musim hujan, menceritakan dengan lancar apa yang terjadi pada Viona. Bahwa gadis berambut hitam lurus panjang itu baru saja meninggal dunia, disemayamkan di satu rumah duka dengan upacara besar, sebelum tubuh fananya dibakar.
“Orangtuanya membuat rumah-rumahan bagus, ada piano di dalamnya, halaman luas, kolam renang, setumpukan uang-uangan kertas, dan makanan yang disukai Viona, untuk dikirim ke surga. Empat tahun dia melawan kankernya, dan dia menyerah,” kata teman itu.
Teman itu masih terus berbicara sementara Leo mulai merasakan perutnya memberontak. Dia ingin segera menghilang dari keramaian manusia yang membuat dadanya terserang sesak tiba-tiba.    
Gadis itu tidak benar-benar menyelesaikan sekolah meski sekolah memberinya ijazah. Dia tak melanjutkan sekolah meski orangtuanya mampu mengirimnya ke mana pun di seluruh dunia. Dia hanya duduk menunggu waktu di belakang pianonya, membiarkan jemarinya menari ringan di atas tuts piano, menyanyikan satu lagu pengharapan untuk ibunya yang setia mendampinginya, ketika rambutnya yang hitam panjang itu menipis, lalu habis sama sekali.
Ibunya membelikan banyak topi cantik untuk menutupi kepala putrinya yang gundul tetapi gadis itu lebih senang membebaskan dirinya terbuka.
 “Dia tak pernah marah atau mengeluh meski sakitnya hebat. Ibunya bilang, dialah yang selalu dihibur oleh anaknya. Yang dia tak tahan, ia tak pernah melihat anak itu menangis, hanya diam tak bergerak bila sakit itu datang menggerogoti, dia menerima sakit itu sendirian, untuk dirinya,” suara kawannya terus terngiang di dalam telinganya.
Leo menekan gerahamnya kuat-kuat sampai ia merasa sakit dan tegang.
“Kamu bisa bayangkan, bagaimana orang berubah menjadi debu dalam beberapa menit saja, dibakar?” 
Perkataan itu seperti menguliti kepedihannya. Sekarang ia mengutuk dirinya karena tak tahu kondisi gadis itu, yang sebenarnya. Meninggal di usia muda dalam kondisi cantik dan segar? Kenapa hidup terlalu cepat tidak adil?
Kekacauan 1998 baginya tak sebanding dengan kehilangan gadis berambut lurus hitam panjang yang belum dengan baik dikenalnya itu. Bila sedang di Jakarta, ia akan sengaja melewatkan dirinya di sekitar Kelapa Gading, berputar tanpa tujuan, dan membiarkan segala peristiwa di perpustakaan, bayangan rumah duka tempat tubuh mati itu disemayamkan, rumah-rumahan yang dibuat orangtuanya, lalu vas yang berisi debu, tubuhnya, tampak dalam bayangan di kepalanya.
Saat yang sama dia akan merasakan gadis itu menyapanya ramah, bertanya soal buku yang akan dan sudah dibacanya. Dia masih bisa melihat tulang-tulang di lehernya seperti bermunculan ketika dia berbicara, saking kurusnya dia, untuk menjelaskan sesuatu. Atau tawanya yang jernih seperti suara peri manis di pepohonan yang berbunga.
Fajar telah merebak. Dan Leo merasakan matanya berat. Mengingat pagi ini dia akan menikmati bubur nasi yang kental buatan ibunya, perutnya sudah terasa nyaman. Dia menutup matanya sambil membayangkan bubur itu dan gadis berambut lurus hitam panjang berwajah sendu itu. Perutnya terasa manis dan pahit sekaligus. Bahwa ia pernah merasa jatuh hati kepada seorang gadis berambut lurus hitam panjang, sembunyi-sembunyi dan sendiri, kemudian dibawa pergi diam-diam. Tak seorang pun yang tahu. Mengingat itu, ia merasa perutnya kosong.
Tetapi, bagaimana Wandi tahu soal Viona?  Apa Pak Paulus membocorkan rahasia bahwa dia beberapa kali bersama Viona di perpustakaan? Tetapi dia ingat Prandi pernah memergokinya ia tengah memandangi Viona. Ia mengelak ketika dipaksa ia menyukai Viona. Tetapi Prandi, yang sudah dua kali pacaran itu, tahu bahwa pandangan seperti itu hanya dilakukan oleh seorang laki-laki yang menyukai perempuan.
Sialan, bisiknya sambil mengangkat kedua tangan dan menaruh di bawah kepalanya. Tak lama terdengar suara napasnya yang tenang dan teratur.

*
Bersambung ke bagian 3 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar